Rumah, Cafe, dan Halte

Rumah, Cafe, dan Halte


Dia Jo, remaja tanggung yang sudah tiga kali dalam seminggu ini bolak-bolak ke coffeeshop legendaris, tempatku bekerja. Sebuah coffeshop yang suasananya kayak rumah banget. Iya, rumah banget. Tapi, kalau kamu berpikir di sini ada televisi di ruang tengah, bapak-bapak lagi kerja di depan laptop, atau orang tuamu yang sedang bertengkar, kamu salah. Bukan itu. Di sini tidak ada itu semua. Ruangan ini terlalu sempit untuk hal semacam itu. Tapi, satu hal yang tidak dimiliki tempat lain, di sini penuh kehangatan.

Aku dan semua pegawai sepakat bahwa orang yang datang ke sini bukan untuk menikmati kopi. Kami juga sadar kalau kopi di sini rasanya biasa saja jika dibandingkan dengan kopi lain yang berlomba dengan segala keunikannya. Bahkan, beberapa orang yang datang memilih untuk meracik kopinya sendiri, seperti di rumah.

Di tempat paling ujung, dekat lampu hias kuno, biasanya ramai ditempati sekumpulan anak muda berseragam. Pukul 3 sore, biasanya mereka datang, setelah lonceng pulang sekolah. Aku bingung. Mengapa mereka terus saja kembali ke sini. Ke tempat yang bahkan tidak ada tulisan “free wifi”. Juga Jo, remaja tanggung yang sepertinya sangat mengerti kopi tapi memilih menghabiskan waktunya ngopi di tempat yang biasa saja. Atau juga Sherina, perempuan seusiaku yang selalu kesini tiap malam minggu, dengan tampilan yang menunjukkan kalau dia seorang wanita karir.

Mengapa mereka terus kembali, lagi dan lagi.

Aku sejujurnya tidak paham dengan konsep cafe yang berusaha menghadirkan suasana rumah, salah satunya di tempatku bekerja. Karena biasanya, orang pergi ke kafe ya emang lagi bosen sama suasana rumah. Karena bosen, akhirnya mereka menemukan kafe, sebagai tempat yang menghadirkan suasana baru. Suasana yang berbeda dengan yang ada di rumah. Gitu kan, konsepnya. Nah, yang bikin lebih aneh lagi adalah cafe yang menghadirkan suasana seperti di rumah, ternyata rame.

Tapi, belakangan akhirnya teka-teki itu terjawab. Ternyata ada banyak orang di luar sana yang sedang kehilangan suasana rumahnya meskipun sedang berada di rumah. Kehilangan Rumah, tempat ternyaman untuk menjadi diri sendiri, tempat mendapatkan kehangatan, tempat yang seharusnya dipenuhi kasih dari orang terkasih.

Aku yakin banyak juga orang yang mengalami nasib seperti jo, sherina, dan sekumpulan anak muda berseragam, yang kehilangan suasana rumahnya. Tapi, itu hanya dugaan tanpa dasar dari seorang barista tamatan smp saja. Belum tentu benar.

Tak terasa sudah pukul lima petang. Bergegas, aku menuju halte, tidak jauh dari sini, menunggu perjalanan ke tempat yang berbeda untuk memulai petualangan yang baru.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama