Cerita : Hujan di tepi bukit

.
Cerita : Hujan di tepi bukit 


Suara klakson kijang tua khas mobil kakekku terdengar mendekat menuju rumahku. Aku yang sedari tadi memasukkan pakaian ke dalam koper lantas bergegas memberi tahu ibu, sambil sedikit merapikan kursi di ruang tamu. Suara klakson itu adalah pertanda bahwa mobil kakek sudah sampai. Ya, Kakeklah yang akan memberiku tumpangan ke stasiun bersama ibu bapak. Sekitar dua jam lagi keretaku berangkat. 

Sejenak, Aku terdiam. Aku senang, kakek telah sampai. Itu artinya aku bisa segera ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta, tujuan perantauanku. Tapi, itu juga berarti Aku akan segera meninggalkan kampung halamanku. Tempat yang kutinggali selama delapan belas tahun dan tak pernah kutinggalkan. Ditambah lagi, Aku anak tunggal. Hatiku berkecambuk. Aku mencoba menenangkan diri dengan memeluk ibu sambil mengatakan, aku sayang ibu. Cuma itu yang bisa kukatakan. Selebihnya hanya kucuran air mata yang sudah tak bisa kubendung. Mata ibu pun berlinang. Nampak sekali ia  tak tega bila anak semata wayangnya ini harus merantau ke pinggiran ibukota. Ibu mencoba kuat. Ia menguatkanku. Diusapnya rambutku sambil mengatakan, Kowe kudu dadi wong sing mbuk karepke le, ibuk cumak iso dongakne. Aku tersendu-sendu, sambil memeluk ibu lebih erat.

Di teras rumah kini semakin ramai. Aku mengintip di balik tembok dekat kamarku, ada lubang yang dulu sewaktu kecil pernah kubuat. Terlihat dua pamanku sedang bercengkrama dengan kakek sambil sesekali menghisap rokok di tangannya. Aku semakin terharu. Betapa keluargaku sangat peduli terhadapku. Oh, semakin berat saja aku meninggalkan tempat penuh kenangan ini. Memang berat. Tapi aku sudah memilih. Keputusanku sudah bulat. Dengan sekuat tenaga aku menguatkan batinku yang bergejolak. Kupercepat tanganku mengemas barang-barang. Lalu, Kulihat sudah pukul sembilan malam. Itu berarti keretaku tinggal satu setengah jam lagi akan berangkat. Ibu dan Bapak memberiku kode bahwa perlengkapan mereka sudah siap. Ibu dan Bapak memang rencananya akan menemaniku di Jakarta selama dua hari. Karena mereka tahu, anak semata wayangnya ini bakal kelabakan jika harus membereskan barang-barang sendirian saat tiba di tujuan.

Pukul Sembilan lewat lima belas, malam, Kami berangkat menuju stasiun terdekat. Waktu perjalanan mungkin sekitar empat puluh lima menit. Semoga lancar, batinku. Selama perjalanan, ibu yang duduk di sampingku terus saja memelukku. Aku paham, ini pasti berat baginya. Di belakang kemudi mobil, kakek menasihati ibuku dengan sedikit tertawa. Sudahlah nduk, wong anake ape golek ilmu lho. Ora perlu diganduli. Iku wis dadi kekarepane. Wong tuo iku karek dongakno. Pasrah gusti Allah, pokoke beres. Iyo opo ora le, kata kakekku sambil menghisap rokok kretek kesukaannya dan menatap kearah bapak. Bapak tertawa saja mendengarkan nasihat kakek. Tapi, Aku tahu. Bapak memang laki-laki, tapi bukan berarti ia tidak sedih. Aku sedari tadi memperhatikan raut muka Bapak. Ada rasa gelisah yang disembunyikan. Aku pura-pura tidak tahu saja, agar keadaan tidak menjadi seperti konser isak tangis. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menyalakan musik di ponselku yang terhubung dengan mobil kakek melalui Bluetooth. Bukannya suasana menjadi cair, yang terjadi justru sebaliknya. Isak tangis ibuku semakin menjadi-jadi karena yang kuputar adalah lagu Mawang, ‘Kasih sayang kepada orang tua’.

Seperti perkiraan, Kami tiba tepat waktu. Setelah sampai, Kami tak bisa berlama-lama di luar stasiun. Kami harus segera masuk dan menempati ruang tunggu penumpang. Aku mencium tangan kakek, dan kedua omku sambil menahan rasa haru. Omku juga sebenarnya tidak tega. Dia dulu pernah delapan bulan hidup di Jakarta dan keadaan sangat buruk baginya. Dia hanya berpesan agar Aku tidak takut menghadapi rintangan kedepan. Ia mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan memasukkan ke dalam kantong celanaku. Buat pegangan awal, ya. Setelah berpamitan, Kami siap bergegas menuju ruang tunggu.

Di ruang tunggu, Kami duduk di kursi paling ujung. Di tempat yang anginnya paling semilir. Terlebih lagi ini sudah malam. Ibu beberapa kali pergi ke toilet untuk buang air kecil. Aku dan Bapak cuma mengamati ibu bolak-balik toilet, sambil terkekeh. Saat ibu ke toilet, barulah bapak mau membuka suara. Ati-ati yo cung. Jakarta iku keras. Nik onok opo-opo kabari wong omah yo. Bapak asline gak tego. Tapi, iki wis dadi dalan sing mbuk pilih. Lha pe piye meneh. Wis pokoke tak dongakno selamet tur opo sing mbuk karepi keturutan. Aku tak berkata apa-apa. Hanya mendekap Bapak dengan sangat erat. Beberapa kali kuciumi tangannya hingga jatuh juga air mataku.

Tak lama kemudian, ibu kembali dari toilet. Dari kejauhan terlihat kereta kelas ekonomi yang sedang melambat ke arah stasiun. Itu jelas keretaku. Kami masuk dan menempati tempat duduk sesuai tiket. Kereta berangkat.

Bersambung...

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama